Suara tumpukan pakaian anak-anak jatuh ke lantai. Semua yang saya susun dan rapikan selama 1 jam hanya mampu bertahan 1 menit dalam lemari. Semua itu tak terjadi hanya sekali tapi berulang kali dalam beberapa tahun ini. Bosan, kesal rasanya. Maka dari itu mesti ada perubahan.
Dari situlah jadi teringat Marie Kondo, seorang konsultan berbenah. Saya mengenal nama itu dari kuliah whatsapp beberapa waktu lalu. Tapi tsunami chat grup membuat saya lupa apa isi kuliah tersebut. Parah banget ya? Terlalu bersemangat mengikuti semua kulwhap, sampai tak ada satupun ilmu yang tercantol di kepala.
Saya mulai dari awal, menonton channel “Tidy up with konmarie” via YouTube. Membaca buku best seller nya yang diterbitkan lewat penerbit Bentang dan juga belajar dari postingan-postingan via Instagram.
Tapi semua itu tak akan lengkap kalau kita tak memulai dengan praktik dong. Sehingga pertama-tama yang mesti dibenahi adalah pakaian anak-anak. Semua saya tumpahkan ke lantai seperti petunjuk dari buku “the life-changing magic of tidying up”. Anak-anak saya ajak untuk memilih apa baju ini masih ia sukai atau tidak dan mereka tampak gembira karena diajak memilah baju.
Semua nya terasa mudah. Melipat dan menyimpan nya pun tak sulit karena pakaian mereka kecil-kecil dan hanya butuh beberapa kotak kardus bekas air mineral untuk mengelompokkan nya. Dan setelah mengobservasi beberapa hari memang anak-anak mudah mengambil baju yang disukai tanpa membuat yang lain berantakan.
Disini bisa dibilang sukses. Dan kendala itu datang saat membenahi lemari saya sendiri. Ternyata tumpukan pakaian itu harus saya singkirkan dan menyisakan baju yang saya sukai dan dibutuhkan. Ada baju-baju penuh kenangan. Kebaya pernikahan yang tak mungkin dipakai lagi tapi berat disingkirkan. Dan banyak lain nya.
Setelah berhari-hari saya baru mampu memilah isi lemari. Bahkan sampai lupa ada banyak tugas di whatsapp group karena selama seminggu saya galau.
Kini saya harus mengakui bahwa Marie Kondo benar, setelah membuat lemari itu bisa bernafas, saya pun merasa lega dan bangga. Bahkan setiap hari saya meluangkan beberapa detik untuk memandangi pakaian, selimut, seprei, yang berderet di lemari.
Tapi apa semua sudah selesai? Semua sudah rapi?
Tentu belum. Masih banyak PR saya untuk berbenah. Dan ini hanya permulaan. Karena masih banyak benda sentimental yang belum tersentuh. Ada puluhan buku yang mesti saya elus-elus sebelum dipindahkan dari rak koleksi. Juga merombak dapur dan kamar yang seperti kapal pecah.
Ini tantangan saya. Dan saya yakin bisa berubah untuk melalui nya.
#OdopRumlitIPJepara
#BelajarMenulis
#Konmari

0 komentar